WEB 2.0 untuk Tatanan dan Peradaban Bangsa yang Lebih Baik.

Gaung Internet dengan WEB 2.0 nya saat ini memang sedang menuai euforia yang sungguh mempesona. Web 2.0 telah mampu merubah tren penggunaan teknologi World Wide Web dan web desain yang bertujuan untuk meningkatkan dan mengoptimalkan kreativitas, komunikasi, keamanan berbagi informasi, kerjasama dan fungsionalitas web itu sendiri. Teknologi ini memiliki konsep untuk pengembangan dan evolusi atas budaya penggunaan web dan layanannya pada masyarakat selama ini, seperti situs jaringan sosial, situs berbagi video, wiki, blog, dan folksonomies. (Web 2.0 at wikipedia)

Web 2.0 tree

Berkaca kepada Obama yang telah dengan suksesnya menggunakan teknologi web 2.0 sebagai tools dalam kampanye Remaking America pada pemenangan pemilihan presiden di Amerika. Berawal melalui barackobama.com saat kampanye yang disertai dengan semua akun social network yang dikelola dengan baik dan cantik, Obama  telah mampu membangun sebuah sistem yang komunikatif, transparan dan pastisipatif untuk masyarakat para pendukungnya di amerika dan simpatisan-simpatisan yang tersebar diseluruh dunia. Tak hanya berhenti disitu, Obama pun tetap melanjutkan optimalisasi penggunaan teknologi web 2.0 ini pasca pelantikannya menjadi presiden, melalui situs whitehouse.gov.

whitehouse.gov

Jika kita menilik model media konservatif selama ini seperti web 1.0, koran, telivisi dan radio, adalah semua jenis media yang minim adanya sisi partisipatif dari masyarakat. Jika pun ada maka pemilik media masih sangat dominan haknya untuk melakukan sensor paket apa yang layak menurutnya untuk dipublish atau tidak. Di negeri ini kita tidak bisa menutup mata, dijaman dahulu saat kritik-kritik dari masyarakat sering terbelenggu, dan saat ada sebuah media berani menyampaikan kritik yang cukup pedas maka resiko ancaman terberedelnya atau resiko dipecat dari media itu bisa terjadi.

Janji transparansi melalui maraknya proyek-proyek situs egov di negeri ini pun berujung menyedihkan, anggaran bermilyar-milyar hanya menjadi proyek menghabiskan dana seperti halnya proses proyek-proyek pemerintah lainnya. Apakah kita menyalahkan pemerintah? tentu tidak bisa semata-mata kita menyalahkan orang-orang di pemerintahan saja.

Tapi mari kita sedikit lebih objektif, sejak dahulu para ahli IT dinegeri ini sering berkampanye untuk ITisasi pada sistem-sistem di pemerintahan. Namun sungguh amat disayangkan, para pelaku dan pengusaha IT yang mendapatkan tender proyek ITisasi di pemerintahan ini kebanyakan justru terlihat tak ubahnya seperti orang-orang bobrok di pemerintahan itu sendiri.  Terlihat kebanyakan proyek ITisasi itu hasilnya hanya berujung pada pembodohan orang-orang di pemerintahan  atas teknologi wah nya internet demi sekedar mendapatkan proyek saja.

Kita bisa melihat bersama-sama, banyaknya situs-situs pemerintah yang mudah dijebol para cracker, tampilan situs-situs pemerintah yang membosankan tak pernah update dan tidak adanya pelatihan yang baik tentang teknologi internet kepada orang-orang pemerintah itu sendiri dan bahkan banyak situs-situs itu telah mati suri. Juga sistem-sistem informasi yang dibangun ternyata tidak bisa berjalan dan sudah sangat jauh tertinggal teknologinya. Ini sungguh sebuah potret nan menyedihkan.

Model media informasi searah yang ada selama ini hanyalah akan menghadirkan kepasifan masyarakat untuk turut andil bekerja bersama membangun bangsa ini. Apapun itu medianya jika masih berbasiskan pada informasi yang searah hanya akan lebih banyak menghasilkan produk-produk pemikir doang dan tukang komentar di belakang, serta mengkebiri dan membunuh jiwa-jiwa merdeka untuk berdedikasi dalam membangun tatanan dan peradaban bangsa bersama-sama.

Kehadiran teknologi web 2.0 akhir-akhir ini semestinya bisa menjadi solusi untuk  dioptimalkan menjadi sebuah tools dalam memperbaiki kondisi-kondisi tersebut. Karena dengan menggunakan web 2.0, controlling dan partisipasi khalayak umum bisa lebih di optimalkan, transparansi bisa lebih jelas terpaparkan, dan komunikasi antara kedua belah pihak bisa tercipta dengan baik.

Teknologi web 2.0 dapat memberikan peluang kepada setiap orang untuk menjadi publisher, pembuat berita dan penyampai pesan. Teknologi ini juga mampu mengimbangi dominasi-dominasi media lain yang berbasiskan informasi searah. Web 2.0 juga membuktikan betapa dahsyatnya komunikasi viral sebagai pembetukan opini maupun penyampai ide dan kritik. Pengelolaan media web 2.0 yang baik dan penuh dengan kedewasaan nan cantik,  akan mampu menjadi tools sebagai pembangun kedewasaan kehidupan dalam berbangsa.

Menilik pada proses demokrasi yang terjadi bangsa ini, paket reformasi yang di dengungkan sejak tahun 1998 hingga hari ini masih jauh dari harapan. Kebuntuan untuk menembus sistem feodal, otoriter dan dogma masih bisa kita lihat dimana-mana, yang berakibat munculnya protes-protes dan demo yang berujung pada keanarkian. Namun juga sangat disayangkan, para pelaku protes itu justru memilih jalur-jalur anarki sebagai ujud koreksi terhadap kebijakan pemerintah. Padahal jika anarki itu kembali merebak dimana-mana yang pasti hasilnya adalah kehancuran dan kemunduran proses pembangunan yang telah dilakukan selama ini. Saya hanya berpikir alangkah sayangnya material yang dihancurkan sekecil apapun itu yang telah di bangun oleh para pendahulu bangsa.

web 2.0 is state of mind

So, jika ada cara yang lebih baik untuk membangun bersama roda-roda tatanan dan peradaban bangsa ini mengapa tidak kita mengoptimalkan untuk menggunakannya? Namun tentu saja optimalisasi peran web 2.0 ini musti di dukung oleh pemerataan infrastruktur dan penetrasi internet yang menjangkau ke seluruh negeri.

*disclaimer : ngeroweng nguyahi segoro, inspiring from techcrunch.
*illustration images from googling.

14 thoughts on “WEB 2.0 untuk Tatanan dan Peradaban Bangsa yang Lebih Baik.”

  1. waduh, judulnya serius bgt ya kaya bikin paper 🙂

    internet juga mendukung perkembangan small business, koperasi, dan trading house juga lho, asal tau bagaimana memasarkannya.

    jadi, saat mulai akrab dengan 2.0
    sebaiknya menggunakan konten yang mampu diserap juga dari luar Indonesia. bisa dari segi bahasa, kualitas, dan pencintraannya.

    klo ekonominya naik, peradabannya sedikit banyak akan berpengaruh juga 🙂

  2. @iiiccchhhaaa : agree!
    @mantan kyai : tak kabari mengko rabi ku cak! hahaha
    @emfajar : sepertinya sudah ada yang memulai tuh…
    @afwan : secara konsep, teknologi maupun fitur-fitur yang dihadirkan pada web 2.0 jauh berbeda dengan web 1.0
    @dudi : hahaha… eruh ae 😛
    @alit : wasyah… pantes gak lulus-lulus :p
    @ichanx : ketimbang demo kenapa gak ngeblog aja… kekeke

  3. andai saja calon2 pemimpin negeri ini bisa kenal web2 dah pasti mereka akan bisa menjalin komunikasi secara intensif kepada publik, mas epat. sayangnya, mereka masih terlalu mengandalkan interaksi sepihak secara offline.

  4. jd kampanye jg via web aja..ngga bikin macet jalan
    yg demo jg punya jejaring web sendiri
    ngga bikin rusuh

    asal kampanyenya ngga pake cara spam aja

    ato partai2 rame2 bikin lomba blog, bikin akun social network sana-sini spt sekarang :mrgreen:

    yg orang TI panen dah kerjaan fasilitasi semuanya 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*