Lamunan Disaat Persimpangan

Bukan mereka yang berarti disini
Bukan dirimu atau pun diriku
Disini hanyalah sebuah persimpangan
Dan kembali pun itu adalah bagian dari persimpangan ini
Tapi itu tidak berharap…

Sebuah kondisi persimpangan menghadirkan polemik yang kadang membuat kita merasa kesulitan dalam mengambil keputusan. Konflik horizontal maupun vertikal bahkan konflik internal diri bisa dibilang akan selalu muncul dalam kondisi ini. Ego, obsesi, kekuatan diri, moral, knowledge, history dan insting merupakan beberapa parameter yang mendominasi untuk menjadi dasar keputusan dalam sebuah persimpangan.
Secara naluri setiap makhluk akan selalu mengambil keputusan demi keamanan dan keselamatan diri. Saya jadi teringat dijaman ospek dahulu, kalimat “…cari selamat ya dek?!..” dengan nada menghardik selalu menjadi kalimat senjata para pembina ospek. Ya pastilah cari selamat, katene goblok tah urip golek ciloko? ( memangnya saya bodoh hidup cari celaka? ).

Namun kadang tidak bisa sesederhana itu, moral sering menjadi parameter benturan untuk mementingkan keselamatan diri kita sendiri. Namun terkadang saat sikap bijak demi moral tadi menjadi parameter dominan dalam sebuah persimpangan, justru hasil akhirnya adalah bumerang bagi diri kita sendiri. Berkorban diri? Dalam sebuah wacana perjuangan pengorbanan diri menjadi yang biasa, bahkan tak sedikit tindakan-tindakan pengorbanan diri menjadi paradigma perjuangan mencapai cita-cita bersama.

Ego, sifat dasar manusia salah satunya adalah survive. Dan ego menjadi parameter yang dominan saat saat manusia ini dituntut untuk menghadapi konteks survive. Ego yang dominan menjadi perspektif negatif, namun mengeliminasi ego sama juga dengan bunuh diri.
Obsesi, modal utama manusia dalam mencapai kehidupan cita-citanya. Obsesi menjadi sebuah percepatan dalam mencapai tujuan yang diharapkan. Obsesi yang dominan juga akan memunculkan perspektif negatif dan justifikasi-justifikasi akan mudah dimanipulasi untuk membutakan cita-cita.
Kekuatan diri, menyadari dan perhitungan kekuatan diri adalah parameter dasar dalam setiap strategi. Kebutaan akan kekuatan diri adalah awal dari setiap kehancuran. Tingginya tingkat kesadaran kekuatan diri menjadi sebuah kekuatan untuk menentukan langkah-langkah strategi apa yang akan kita ambil.
Moral, berkaitan sekali dengan etika dan nilai-nilai norma ( jadi inget pelajaran PMP hehehe ) dilingkungan sekitar. Parameter moral lebih mengarah kepada justifikasi lingkungan sekitar kita terhadap keputusan atau jalan apa yang kita ambil. Dengan parameter moral, akan membawa keputusan yang kita ambil lebih bermanfaat baik untuk diri kita ataupun lingkungan.
Knowledge, sejak lahir manusia dibekali alat-alat mencari dan memproses pengetahuan dalam kehidupan ini. Pengetahuan yang luas akan mempermudah langkah manusia dalam menyelesaikan segala persoalan. Pengalaman dalam proses seluruh berhidup dan pendidikan formal merupakan modal pengetahuan.
History, latar belakang kondisi dan sejarah perjalanan yang terjadi merupakan parameter yang selayaknya untuk dicermati. Mengabaikan history perjalanan sama saja dengan menghapus karakter diri dan akan menimbulkan persoalan-persoalan baru yang membutuhkan banyak waktu lagi untuk penyelesaiannya.
Dan Insting, tak ubahnya makhluk jenis lain, manusia pun memiliki potensi insting. Insting yang kuat dan terlatih lebih sering menjadi penyelamat dalam kehidupan. Namun, dominasi insting tanpa parameter-parameter lainnya menjadikan diri manusia tak ubah layaknya makhluk lain.

Pengolahan keseimbangan parameter-parameter tersebut dengan menyesuaikan kondisi yang terjadi, yang mana seharusnya dominan dan parameter yang mana untuk tidak mendominasi maka akan menghasilkan sebuah pengambilan keputusan yang bijak dan smart dalam persimpangan-persimpangan yang terjadi pada proses berhidup. Apakah proses pengolahan ini yang disebut berfikir? ( sepakat dengan paradigmanya hn kah? )

5 thoughts on “Lamunan Disaat Persimpangan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*