Pagi ini, Perempuanku…

perempuanku…
pagi ini mentari hangatkan diriku lebih awal
pagi ini melati ditaman berseri lebih awal
pagi ini batas kalbu pun tersibak

perempuanku…
pagi ini kembali aku merindumu
pagi ini kembali aku rasakan semuanya
pagi ini kembali aku terhentakkan bayangmu

perempuanku…
aku ingin menyapamu…
penuh kerinduan bukan kebencian
penuh kehangatan bukan ketakutan
penuh kearifan bukan kemunafikan

perempuanku…
inginku selalu bicara jujur padamu
inginku selalu menghilangkan dukamu
inginku selalu menemani hari-harimu

perempuanku…
biarkan semua berlalu…
dan menyatu…

Renungan Pada Sebuah Negeri

Aku pernah duduk disini, ditelaga ini. Masih kuingat semua, keremangan rimbunnya pohon-pohon raksasa disekelilingnya. Jeritan hewan-hewan didalamnya sana begitu nyaring, mengingatkan bagi siapa saja yang berada disekitarnya bahwa didalam sana adalah sebuah dunia tanpa belas kasihan, tanpa keadilan, penguasa adalah sang pemilik kekuatan.

Darah adalah sebuah kemurahan dimana-mana, daging pun menjadi makanan yang sudah tak perlu untuk dimasak terlebih dahulu. Basa basi kalimat pun hanyalah sebuah bahasa penakluk kepada sang mangsa.

Telaga ini pun begitu pekatnya, tak dapat lagi dia beriak ataupun memantulkan keindahan bulan purnama diatas sana. Bebatuan dipinggirnya telah terpenuhi oleh kotoran-kotoran burung pemakan bangkai. Binatang airpun harus rela untuk bertahan hidup didalamnya, karena dia sudah tidak mungkin untuk bisa keluar mencari udara yang lebih layak.

Ah …aku masih ingat semuanya ini, aku pernah disini…

Hanya ada sebuah gubuk yang hampir tersungkur ketanah yang setiap hari menantinya, agar tak ada lagi yang perlu disangganya. Karena dia sudah bosan menyangga gubuk yang tidak bermanfaat itu, gubuk itu telah lama ditinggalkan penghuninya entah pergi kemana atau entah mati dimana. Yah kematian disini sudah menjadi biasa, karena sudah tidak ada lagi rasa penawarnya dan memang tidak butuh lagi rasa-rasa itu! Pancaran kedengkian begitu kuatnya dalam keremangan semua ini, bahkan lebih kuat dari hitamnya semua yang ada disini!

Kucoba berhati-hati melangkah mencari sedikit sisa-sisa tempat yang layak untuk mengistirahatkan tubuh yang sudah berkeringat darah ini. Aku hanya ingin memejamkan mata sebentar, biar kunikmati gelapnya alam mimpiku. Karena kutahu itu masih lebih baik gelapnya daripada gelapnya alam sekitar ini.