Peradaban Teknologi dan Candu
Jaman sekarang memang jamannya teknologi, tak ada satu barang pun disekitar kita yang tak tersentuh oleh kemajuan teknologi. Mulai dari gadget yang selalu kita kantongi, peralatan didalam rumah, kendaraan sebagai alat meluncur menjelajahi dunia sehari-hari, perangkat-perangkat dikantor, komputer, internet, perangkat industri dll dst dsb. Mulai dari yang low-tech sampai yang hi-tech. Benar-benar teknologi telah mendominasi kehidupan manusia sampai saat ini.
Pada faktanya semua teknologi-teknologi itu membutuhkan energi untuk pengoperasiannya, langsung maupun tak langsung. Dalam pengoperasiannya maupun dalam pembuatannya. Bisa dibayangkan, berapa triliyun joule energi yang telah digunakan maupun sedang digunakan dalam kehidupan sehari-hari sejak mulai munculnya revolusi industri di eropa jaman dahulu sampai sekarang dan yang akan datang.
Satu abad lebih revolusi industri telah merubah kehidupan manusia. Satu abad lebih peradaban teknologi telah dan semakin memanjakan manusia, ketersediaan sumber energi yang melimpah ruah dibumi ini membuat ketergantungan manusia akan teknologi semakin tinggi. Dan disaat tersadari bahwa cadangan energi itu semakin menipis, maka perebutan sumber-sumber energi telah memicu konflik dan peperangan. Hampir semua peperangan dimuka bumi akhir-akhir ini, penyebab utamanya adalah perebutan sumber energi khususnya minyak bumi.
Saat krisis energi mulai menerpa, sisi kreatifitas sebagai sifat dasar manusia dalam survive dimuka bumi tertuntut untuk mengatasi semua permasalahan-permasalahan yang muncul atas krisis tersebut. Terobosan-terobosan teknologi memanfaatkan sumber-sumber energi alternatif telah di optimalkan dan diupayakan. Mulai dari energi nuklir, bio energi bahkan blue hoax energi. Namun ternyata, dominasi sumber energi utama yaitu minyak bumi masih menjadi teman utama manusia dalam menjalan kehidupannya pada peradaban teknologi dan realita sebagian besar manusia saat ini sudah terlanjur dimanjakan oleh peradaban teknologi.
Teknologi telah menyandui kehidupan manusia, seperti pada kasus dinegeri ini meskipun harga BBM telah dinaikkan namun realita konsumsi BBM tidak pernah mengalami penurunan dalam jangka waktu lama. Jumlah kendaraan setiap hari yang terjual pun semakin bertambah. Bukti bahwa masyarakat kita masih tetap kaya kok, atau tetap merasa kaya ya?
Meskipun juga tetap saja sebagai sifat dasar manusia adalah dan tetap berteriak untuk mengeluh atau bahkan juga membantu orang lain untuk meneriakan keluhan-keluhan atas imbas dari krisis energi ini.
Pasca diterpa krisis kenaikan BBM, sekarang bangsa ini kembali mengalami krisis energi listrik. Pemadaman bergilir mulai dibiasakan diberbagai kota bahkan termasuk ibukota republik ini. Dan sebagai warga negara kembali kita berteriak lagi menyalahkan penyelenggara negara yang tidak becus dalam mengelola ketersediaan energi yang cukup untuk menopang daya butuh atas energi untuk kehidupan kita sehari-hari.
Saya sendiri pernah mengalami ketersiksaan kecanduan akan teknologi pada kehidupan sehari-hari ini disaat pemadaman listrik itu terjadi. Meskipun cuman beberapa jam saja, namun karena selama ini berpikir selalu akan tersedia maka disaat ketersediaan itu dihentikan telah membuat benar-benar saya merasa tersiksa. Dihari pemadaman itu saya tidak bisa mandi, karena mesin pompa air tidak bisa berfungsi dan rasa tersiksa saya masih berlanjut, selama beberapa jam itu sejak saya bangun tidur sampai sore harinya saya tidak bisa membuat kopi!
Bagaimana jika suatu saat krisis energi ini merambah dunia internet dinegeri ini dan mengakibatkan krisis downtime total berkepanjangan? wah jika kondisi ini terjadi bisa dibayangkan, kecanduan atas pemanfaatan tekhnologi internet dibeberapa kalangan termasuk saya sudah lumayan addict. Bakalan tidak bisa browsing situs portal berita pilihan, tidak bisa buka reader, tidak bisa ngeblog, tidak bisa chatting, beeeuuuh… jangan deh, jangan sampai terjadi! Mungkin sudah waktunya revolusi teknologi dilakukan agar konsumsi dan ketergantungan atas energi minyak bumi bisa diturunkan untuk menatap peradaban era teknologi berikutnya dimasa yang akan datang. Bukan begitu?
