Perfect Weekend : Taipa Beach

Kemaren saya berwiken ria di Pantai Tanjung Taipa, letaknya sebelah utara kota kendari. Bersama dengan semua ANOAnet crew, dan semua civitas akademika POLTEKKES Kendari. Karena kebetulan Poltekkes sedang mengadakan acara semacam penerimaan mahasiswa baru disana, ums… semacam KKM mungkin yah kalo diteknik UB dulu. Tapi tentu jauhlah dengan konsep KKM, soalnya mereka disana untuk bersenang-senang hehehe.

Crew ANOAnet berangkat hari sabtu jam 3 sore dan setelah 2 jam perjalanan, tibalah kami di Pantai Tanjung Taipa. Sesampainya disana kita sudah disambut oleh orang-orang dari Poltekkes, karena mereka semua sudah tiba terlebih dahulu.

Pantai Tanjung Taipa ini sekilas mirip dengan pantai yang ada dimalang, yaitu bale kambang. Pantainya lumayan panjang, dan dipinggirnya terdapat pepohonan dan Gazebo-gazeboan sepanjang pantai. Sedikit yang membedakannya adalah, kebersihan. Ya daerah pantai maupun airlautnya terlihat sekali begitu bersih, tentu saja ini sangat beda jauh bila kita melihat pantai-pantai didaerah jawa.

Setelah berkongkow-kongkow sejenak digazebo pinggir pantai, saya dan beberapa teman akhirnya tidak bisa menahan diri untuk mandi menyebur kepantai. Ombak dipantai ini kecil, dan airnya sangat-sangat bersih dan jernih. Saat kita berenang, beberapa ikan seukuran telapak tangan banyak terlihat disekeliling kita. Saya menyebutnya ikan zebra, karena warna kulit mereka persis seperti kulit binatang zebra putih bergaris-garis hitam. Ikan-ikan zebra ini seolah-olah tidak takut dengan manusia, karena mereka tetap saja asik berenang kian kemari tanpa merasa terusik kehadiran manusia. Satu kesan yang langsung saya tangkap disini, alam disini begitu indah dengan kedamaiannya!

Kira-kira 1 jam, akhirnya saya keluar dari airlaut dan kembali kependopo bersama teman-teman. Dan setelah mandi dengan airtawar dipendopo, sebentar kami pun sempat bermain gitar dan bernyanyi bersama-sama sambil menghabiskan waktu menunggu panggilan untuk makan malam.

Tidak lama kemudian kami pun dipanggil untuk makan malam bersama, dan menu makan malam kita adalah ikan bakar. Dengan ikan yang masih segar karena dibeli dari nelayan disekitar pantai, kami pun menghabiskan semua yang disediakan dengan lahap. Perfect weekend was begin, dalam hati saya berbisik seperti itu hehehe.

Acara malam hari adalah “LULO“, menari bersama membuat barisan melingkar sambil berpegangan tangan dan menggerakkan kaki kekanan dan kekiri dengan irama tertentu diiringi oleh musik dan lagu-lagu beriiramakan melayu. Sebelumnya saya beritahukan dahulu, kalau rombongan dari poltekkes ini adalah berasal dari jurusan akademi gizi, kebidanan dan perawat. Jadi bisa dibayangkan bukan, perbandingan jumlah cewek dengan cowoknya hehehe. Dan jumlah rombongan mereka adalah 7 bus, ditambah beberapa kendaraan pribadi dan ada juga yang membawa kendaraan sepeda motor. Kami dikelilingi oleh berpuluh-puluh cewek disini! πŸ˜‰

Kembali pada acara Lulo, beberapa crew ANOAnet yang memang berasal dari Kendari langsung ikut bergabung ikut menari Lulo. Tapi saya dan beberapa teman yang bukan berasal dari kota yaitu mbul dan si plak ini masih berdiam didekat mobil kami mencoba mengamati gerakan-gerakan tarian Lulo tersebut, dan diselingi melihat dan mengamat-ngamati cewek-cewek Poltekkes mencari mana diantara mereka yang kategori standard hehehe Tape gitu loh :-P.

Kemudian setelah merasa yakin bisa mengikuti gerakan-gerakan tarian Lulo tersebut, saya dan mbul akhirnya bergabung dilingkaran tarian Lulo itu. Namun hanya mbul yang sukses, karena saya ternyata gagal mengikuti gerakan-gerakannya dan yang terjadi adalah saya tertabrak-tabrak oleh orang-orang dikiri dan kanan saya. Akhirnya saya pun kembali menemani plak berkongkow-kongkow saja melihat semua orang ber-lulo ria.

Menjelang tengah malam, acara tarian Lulo pun selesai dan semua orang kembali ketenda-tendanya masing-masing. Kami tetap berada disekitar mobil kami karena kami tidak membawa tenda. Saya pun masuk kedalam mobil karena merasa angin disini terlalu kencang dan badan ini pun sudah terasa lelah sekali, kemaren malam saya kurang tidur soalnya. Sementara teman-teman ANOAnet tetap berada diluar bermain gitar dan bernyanyi, dan beberapa bermain domino.

Saya pun tertidur didalam mobil, dan terbangun kira-kira pukul 03:00 pagi. Merasa sudah tidak bisa tidur lagi, akhirnya saya keluar bergabung dengan teman-teman yang tinggal bermain domino saja yang masih hidup, sementara yang lainnya sudah tertidur beralaskan tikar diluar. Dan saya pun bergabung dengan teman-teman untuk bermain domino, sampai akhirnya gerimis pun membubarkan kami semua. Beberapa dari kami akhirnya masuk kedalam mobil sementara yang lainnya masuk kependopo untuk melanjutkan tidurnya.

Sekitar jam 9 pagi saya terbangun, dan gerimis pun belum berhenti juga. Namun rombongan poltekkes sudah banyak yang berkativitas, ada yang hanya berkumpul-kumpul ada juga yang sudah mulai mandi dipantai. Saya pun bangun menuju kekamar mandi dipendopo, ah airnya habis dan akhirnya saya pun cuman mencuci muka dari sisa-sisa air dikamar mandi itu.
Saat gerimis mulai berhenti, saya coba membangunkan teman-teman didalam mobil tapi yang berhasil saya bangunkan hanya mbul sementara yang lainnya tidak bergerak sama sekali. Dan setelah dia selesai dari kamar mandi dan sepertinya juga cuma mencuci muka saja kekeke, kami pun berdua menuju pantai.

Jenuh dipinggiran pantai, kami pun akhirnya menuju keujung bagian sebelah kiri pantai. Kebetulan ada satu orang teman dari rombongan poltekkes yang menceritakan kalau pemandangan disana bagus. Bertiga bersma teman dari poltekkes itu kami berjalan menyusuri pantai, dan setibanya diujung tersebut teman tadi bercerita kalau dibalik bukit karang ini ada tempat-tempat yang bagus cuma kayaknya licin jalannya karena semalam hujan gerimis. Iseng-iseng saya menggoda mbul, “ mbul, kayaknya ada yang menunggu untuk dikunjungi didalam dan dibalik bukit sana, gimana?..” dan dia pun hanya menjawab dengan tersenyum. Namun akhirnya kita sepakat untuk menaiki bukit itu dan pengen membuktikan semuanya.

Bertiga kami mulai menaiki bukit karang tersebut, diawal tangga naik tadi terdapat tulisan ” Selamat menikmati keindahan pemandangan diatas bukit, goa kelelawar, pantat kapal laut biru dan pantai ogin dibalik bukit ” Saya hanya berbisik dalam hati, kayaknya tidak bakal sia-sia nantinya deh.

Jalan mendaki bebatuan karang yang benar-benar licin karena air hujan tadi malam dengan susah payah dan berkali-kali musti merangkak namun tetap dengan penuh semangat kami melewatinya. Tepat di separo bukit karang ini kami sampai di goa kelelawar, bentuknya seperti sumur dengan lubang mulut goa berada sekitar 2 meter menjorok kedalam. Namun kami hanya melihatnya dari luar dan tentu saja saya tidak lupa untuk mendokumentasikannya, dan ternyata didalamnya ada tangga untuk turun kegoa tersebut. Namun kami pun sepakat untuk melanjutkan perjalanan karena kami tidak membawa alat penerang sama sekali untuk masuk kedalam goa tersebut.

Setelah dari mulut Goa Kelelawar tersebut, perjalanan dilanjutkan dengan sedikit menuruni bebatuan karang mengikuti arah petunjuk yang ada. Dan setelah menuruni bebatuan karang, perjalanan dilanjutkan dengan naik. Dan tetap masih penuh dengan batu-batuan karang dan penuh dengan pepohonan-pepohonan disekitarnya. Sesekali saya berhenti dan melihat pemandangan dibawah, benar-benar indah, eksotik, dan ungkapan-ungkapan kekaguman lainnya menyaksikan pemandangan yang ada disini. Sesampainya diatas bukit, kamipun sempet beristirahat sejenak dan melihat-lihat pemadangannya dari atas bukit ini. Benar-benar eksotik!
Namun kami belum bisa melihat pemandangan dibalik bukit karena yang ada masih pepohonan-pepohanan lebat sementara yang bisa kita lihat adalah pemandangan pantai dari awal kita mendaki tadi. Ada sedikit rasa sesal, kenapa kita tidak membawa bekal tadi? Haus dan lelah pun mulai terasa, namun kami sepakat untuk tetap melanjutkannya dan setelah merasa puas menikmati pemandangan yang ada, kami pun melanjutkan dan jalur berikutnya adalah menuruni bukit ini. Jalur menurun ini sudah tidak dipenuhi bebatuan karang, namun tetap saja licinnya bukan main. Pepohonan dan akar-akar pohon disekitarnya cukup membantu untuk dijadikan pegangan mengatasi licinnya tempat kaki-kaki ini berpijak. Sesampainya dibawah suara ombak air lautpun mulai terdengar dan kami pun musti melewati semacam kubangan air.

Setelah melewati sekerumunan pohon-pohon lebat, kami pun sampai dipantai ogin. Dan ooh…. begitu indah pantainya! Tak habis-habisnya saya berdecak melihat keindahan disini. Airlaut disini lebih jernih dan bening, batu-batu karang didalamnya terlihat jelas dan saya pun teringat cerita-cerita dan gambar-gambar pemandangan dibawah laut didaerah maluku. Tidak begitu panjang pantainya, tapi ini semua benar-benar terlihat pure dan natural. Mungkin karena jarang yang berkunjung kesini disebabkan jalur menuju kesini begitu susah untuk ditempuh.

Dan disebelah kanan, terdapat bukit karang kecil yang menjorok kearah pantai dan ternyata itu yang disebut pantat kapal laut biru karenan memang bentuknya mirip sekali dengan pantat kapal. Kami pun akhirnya menaiki bukit karang pantat kapal itu, dan jalur yang dilewati musti terlebih dahulu sedikit menceburkan diri keair laut. Saat mulai menaiki karang-karang ini, saya sudah benar-benar mulai kelelahan. Tanpa sarapan, tapa bekal minuman sedikit pun dan karang-karang disini lebih tajam dibandingkan karang yang ada dibukit tadi. Mungkin lain kali musti memakai sarung tangan kalau ingin kesini lagi, dan mungkin musti memakai sepatu karenan sendal jepit ini tidak bisa melindungi tajamnya karang disamping pijakan-pijakan kaki. Yah lumayan tergores-gores sedikit tangan dan kaki ini.

Sesampainya diatas karang pantat kapal kami pun hanya mampu berdecak-decak kagum, kehabisan kata-kata melihat keindahan pemandangan yang ada. Air laut dibawah yang begitu jernih memperlihatkan jelas batu-batuan karang didalamnya dan sesekali ikan-ikan yang berenang didalamnya dan terkadang rombongan ikan-ikan terbang yang berlompat-lompat diatas airlaut itu. Jauh diseberang laut terlihat daratan bergunung-gunung dan beberapa pulau-pulau. Ah ibu pertiwi ini begitu indah dan disini begitu murni dan alami semuanya!

Setelah cukup lama kami menikmati keindahan dari atas bukit karang pantat kapal, rasanya kami pun enggan untuk pulang kependopo pantai taipa. Mengingat jalur pulang yang lumayan berat untuk ditempuh kembali dan kaki saya sudah benar-benar bergetar kelelahan. Namun mau gak mau kita musti pulang juga, dan setelah merasa benar-benar puas menikmati keindahan dikarang pantat kapal dan pantai ogin ini kami pun akhirnya kembali pulang kepantai taipa. Dalam perjalanan pulang saya berkata kepada mbul, ” benarkan apa yang saya bilang tadi, banyak yang menunggu untuk dikunjungi dan semua ini tidak sia-sia “.

Perjalan pulang ternyata tidak terasa begitu berat lagi, karena sudah mulai hafal jalur-jalur untuk pijakan kaki. Namun rasa lelah itu benar-benar menghinggapi kaki dan badan ini. Seandainya saja tadi seperti ini tentu saja kita sudah membawa bekal minimal air minum.
Sesampainya dipantai Taipa kami menemukan teman-teman ANOAnet sudah bermandi ria diair laut. Saya dan mbul pun kembali kemobil kami mencari air minum!

Setelah beristirahat cukup lama, kami pun dipanggil untuk makan siang. Dan beberapa teman yang masih mandi dipantai pun dipanggil semua. Dan menu siang ini tetap dengan ikan bakar, ayam bakar dan udang, namun sepertinya ikannya bukan ikan segar jadi yang kita habiskan hanya ayam dan udangnya.

Rombongan poltekkes pun sudah mulai melaksanakan kegiatan-kegiatan yang telah mereka rencanakan, siang ini mereka mengadakan acara olahraga pantai. Dan saat melihat salah satu dari mereka membawa bola saya pun dalam hati terasa sudah tidak sabar untuk segera menghabiskan makan siang ini. Hehehe unomi lah guy’s πŸ˜€

Usai selesai menyantap makan siang kami, saya pun dengan beberapa teman segera menuju kepantai untuk bergabung bermain sepak bola bergabung dengan rombongan poltekkes. Tapi setelah bermain tidak lebih dari 15 menit, saya pun merasakan kebodohan saya. Perut yang habis disi dengan makan siang ini pun mulai terasa menyedak-nyedak atau dalam istilah bahasa jawa “suduken”. Dan akhirnya saya pun berhenti bermain bola dan minta diganti, walau sebenarnya hati ini masih ingin bermain.

Setelah istirahat dipinggir dan hanya bisa melihat orang-orang bermain bola, saya pun bergabung dengan teman-teman lain yang mandi dipantai. Cukup lama saya mandi dan berenang-renang didalam airlaut, tidak peduli panasnya matahari yang sudah tepat diatas kepala. Ombaknya juga lebih kecil dibandingkan kemaren sore. Dan mungkin lebih dari 4 jam saya dan teman-teman semua berada didalam air laut. Dan tetap seperti kemaren, ikan-ikan zebra pun masih ada disekita kami menemani berenang kesana kemari. Sampai akhirnya saat saya menantang lomba berenang tiba-tiba kaki saya kram dan saya pun mengerang-ngerang kesakitan. Ah sudahlah, saya memang harus mentas sudah terlalu lama saya berendam.
Namun masih dipinggiran air laut, saya menyalakan rokok sambil mengurut-ngurut kaki yang kram tadi. Menyaksikan semua keindahan disini batin saya berbisik, begitu indahnya semua disini, dan begitu sempurna semuanya.

Sekitar jam 1 siang, kami pun berkumpul kembali dipendopo dan mulai bersiap-siap untuk pulang kembali kekendari. Dan setelah membereskan semuanya dan tentu saja berpamitan dengan orang-orang rombongan poltekkes, akhirnya kami pun meluncur pulang. Diiringi canda-canda riang diperjalanan pulang dan beberapa kutukan untuk sipengemudi karena membuat semua orang pusing dan merasa akan mabok! Namun tepat jam 3 sore, akhirnya kita sampai dikantor mbul. Begitulah kurang lebih 24 jam weekend di pantai Tanjung Taipa yang begitu sempurna dan eksotik.

Tidak lama setelah setelah sampai dikantor dan rumah kami ini, kami pun satu demi satu tepar tertidur menikmati kelelahan yang ada. Dan saya pun tertidur sejak jam 5 sore sampai jam 5 pagi tadi baru terbangun. Semua otot ditubuh ini terasa sakit, dan kulit ini terasa perih semua. Saat saya berkaca, wow melegam kulit wajah saya dan tangan pun terlihat merah terbakar kulitnya. Tapi tidak apa, saya masih terkagum-kagum dengan dengan keindahan semua pemandangan yang ada di Pantai Tanjung Taipa kemaren, termasuk Pantai Ogin, Bukit Karang Pantat Kapal Laut Biru dan Goa kelelawar.

Untuk foto-foto hasil pemotretan mungkin akan saya masukkan keblog ini setelah nanti selesai ditransfer, karena sampai sekarang saya belum sempat mentransfernya. Dan sepertinya nanti saya musti memasang plugin image gallery terlebih dahulu.

Yeah… Kemaren adalah Perfect Weekend untuk saya.

7 thoughts on “Perfect Weekend : Taipa Beach”

  1. lha, kisah dengan gadis-gadisnya mana?
    mau dong…….. brondong πŸ˜€
    kalo kisah diatas gak ada nuansa roman bersama gadis-gadis tetep aja bukan perfect weekend namanya pat :p

    *Hahaha kayaknya kalo yang itu mah biar tercatat dibuku harian aja deh πŸ˜› not for publish πŸ˜€

  2. Pasti gak pake DVB disitu ya? Drink Vodka Beer baby….Vodka Connecting People πŸ™‚

    *Read Only? πŸ˜‰ hehehe ndak lah pak, sayang klo musti readonly-an disana mending dikamar sampeyan aja diwakaka dulu πŸ˜€

  3. quote:
    Namun hanya mbul yang sukses, karena saya ternyata gagal mengikuti gerakan-gerakannya dan yang terjadi adalah saya tertabrak-tabrak oleh orang-orang dikiri dan kanan saya.

    Alaahh, sengojo iki nabrak-nabrak … tape geto loh πŸ˜›

    *Hahaha unomi laaah…. kenanya cuman sedikit kok sebenarnya πŸ˜‰

  4. [quote]*Hahaha unomi laaahΓƒΒ’Γ’β€šΒ¬Γ‚Β¦. kenanya cuman sedikit kok sebenarnya πŸ˜‰ [/quote]
    kena-kena dikit……. tapi diulangi terus…..hahaha….. emang tape……

    *Hayah diterus-terusno ae senengane kie….

  5. Quote:
    Karena kebetulan Poltekkes sedang mengadakan acara semacam penerimaan mahasiswa baru disana, umsΓƒΒ’Γ’β€šΒ¬Γ‚Β¦ semacam KKM mungkin yah kalo diteknik UB dulu. Tapi tentu jauhlah dengan konsep KKM, soalnya mereka disana untuk bersenang-senang hehehe.

    Comment:
    Jelas beda lah..KKM kita emang bener2 neraka dunia..
    Huh..gasak senior panitia !!

    *Satu..Dua..Tiga…Teknik! ( Jadi kangen malang …glukz.. )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*