Pemaknaan Dalam Berhidup
Dalam kehidupan sehari-hari ditengah semua bentuk kesibukan kita, pernahkah kita memikirkan makna atas semua yang telah kita kerjakan dan yang terjadi pada diri kita atau sekitar kita? Pernahkah kita memaknainya sedetail mungkin? Mengambil semua sisi positifnya dan kita refleksikan dalam kehidupan kita. Sepertinya tidak akan sempat jika harus memaknai semua detail kehidupan sehari-hari. Namun berapa persen yang bisa kita lakukan? Saya pribadi mungkin tidak akan lebih dari 5 % bahkan bisa jadi masih jauh dari angka 5 % itu.
Berapa jam kita tidur, berapa jam kita kerja, berapa jam kita habiskan dijalan dan berapa jam kita bersenang-senang? Tapi berapa menit kita menyempatkan berfikir untuk memaknai semua yang telah kita lakukan dan yang terjadi dalam hidup ini? Jika kita mempunyai hidup selama misal 60 tahun,dan seandainya benar kita sudah mencapai 5 % dari semua waktu kita sehari-hari untuk memaknainya berarti 5 % dari 60 tahun adalah 3 tahun!
Selama 60 tahun kita berhidup ternyata cuma 3 tahun kita melakukan pemaknaannya. Sisanya? 57 tahun kita berhidup tanpa melakukan pemaknaan? Mungkin kita masih bisa membela diri dengan pemikiran ” yang penting kan intensitas pemaknaan dan kualitas hasil dari pemaknaan tersebut “. Benar juga sieh, tapi jika kita lihat dari refleksi tatanan kehidupan dan kondisi yang terjadi saat ini sepertinya intensitas dan kualitas itu juga mungkin tidak lebih dari 5 %
Atau mungkin kita bisa berkata, ” kalau kita cuman berfikir kapan bekerja atau actionnya? “. Mungkin yang terbaik adalah seimbang dan saya tidak berpikir bahwa seimbangnya itu adalah 50-50 prosentasenya. Kalau 50 % keseimbangannya adalah benar adanya kita tidak akan bekerja karena waktu yang kita miliki habis untuk berfikir saja.
Tapi yang jelas ada beberapa parameter yang bisa kita garis bawahi, jumlah frekuensi, intensitas, dan kualitas baik dalam pemaknaanya ataupun refleksi dari hasil pemaknaan dalam kita berhidup didunia ini. Jadi seberapa besar parameter-parameter pemaknaan itu telah kita lakukan dalam berhidup ini? Agar kita bisa merefleksikan sebagian besar hasil dari pemaknaan kita masing-masing yang tentu saja akan membuat tatanan kehidupan ini lebih baik bukan?
Sebentar lagi mayoritas masyarakat dinegeri ini akan menjalani bulan suci, seberapa besar dari parameter-parameter tadi bisa dilakukan pada bulan suci nanti?, dan bukan justru rame-rame sok suci dalam menjalaninya. Yang jelas dan mungkin akan tidak berubah seperti tahun-tahun sebelumnya adalah meningkatnya “produk-produk” berkedok menyambut bulan suci yang akan muncul khususnya dimedia massa dinegeri ini. Namun semoga itu semua demi membantu manusia dinegeri ini dalam “pemaknaan” beragama dan bukan sebagai “pemanfaatan” agama.
