Nihilisme…

Sebuah cerita yang gembira, awalnya!

Tahukah engkau sayang, bahwa hati penyair itu hati pencari? Mencari, mencari, selalu mencari. Mencari, bukan untuk memperoleh, bukan untuk mempunyai. Ah, mengapa kukatakan serupa itu? Penyair pun hendak memperoleh dan mempunyai. Tetapi di atas dan di balik-di atas segalanya. Ia menyerah dan memuja. Menyerah dan memuja dengan seluruh jiwanya. Hendak kuarak engkau, sayang, di awan yang berlagu segala warna. Engkau terlampau berat dan jatuh ke bumi. Hendak kusimpan engkau, sayang, di dasar lubuk yang dalam dan rahasia. Engkau terlampau ringan dan naik ke atas. Tetapi, tiadalah sampai hatiku melihat engkau terhempas di bumi dan terapung di air. Tahukah engkau sayang, betapa remuknya hati penyair : memperoleh, tetapi tidak dapat menyerah. Mempunyai, tetapi tidak dapat memuja. Wahai, kemanakah engkau akan kubawa?

Syair ini masih aku genggam dan tak bosan aku baca. Sampai kumal permukaan. Sebab telah lama menyimpan kegelisahan. Aku menangis tanpa airmata. Jelma perbincangan tulus dari dalam pikiran. Jutaan kebimbangan mengusik kesadaranku tentang segala yang aku ucapkan ketika wajah itu menjadi lamunanku setiap waktu. Pergulatan pikiran yang menggantung dalam ribuan kalimat yang pernah aku pahat bersamanya menjadi bahasa yang tak terduga oleh hitungan waktu. Mungkin, telah lama kubiarkan kelopak ini mencari sendiri makna dari kehadiran sebatas lamunan.

Sekiranya bukan suatu yang diadakan untuk terjadi. Ini adalah realitanya. Tak mungkin aku harus bohong pada udara lepas yang kuhisap dalam paru-paruku. Kehadiran wajahnya berkembang dalam dada seiring dengan pura-puraku dalam kalimat-kalimat kesedihan yang tak bosan didengarkan. Setiap kepura-puraanku, aku kubur di bawah kesadaranku sebagai pendengar yang obyektif, semakin tak menentu jalan pikiran bermekaran. Bilakah kelopak ini menjadi bunga, bunga yang terselip di antara rambut dan telingamu, menebarkan wangi. Ketika akan ku pungut dengan jemari. Kau katakan : jangan. Ini bunga hanya tumbuh sekali sepanjang waktu. Ah, mungkin aku hanya seorang lelaki pembual. Tetapi apakah kenyataan akan bilang : tidak.

Lewat sebuah pertemuan bahasa-bahasa gelisah, aku menggali kerinduan di situ. Bersama pura-pura bercerita penuh gelisah. Kadang senda dan tawa. Dan kehangatan merayap dalam cuaca mendung senja. Merambat perlahan. Seperti kebahagiaan yang tak terucapkan, namun terasakan juga dalam jiwa. Bahagia yang tercipta setiap saat wajah itu jelma persahabatan. Sebuah kemurahan dan keramahan untuk berbagi kegundahan dan tawa dalam peristiwa yang telah kau pahat bersama waktu. Melintasi ruang. Meneriakkan pada kehidupan. Tentang cinta umat manusia. Dan lalu dalam mimpi pun akan kutemui wajah itu itu dalam diam. Aku tenggelam dalam mimpi, yang bernyanyi di otakku sendiri. Berkata sendiri dalam takut untuk selalu mencari:

Selamat malam, perempuan. Maaf aku telah mengusik kesedihanmu dengan cerita pura-pura. Ini waktu aku beruntung sekali bisa menggali kerinduan lewat pertemuan. Sebab lama aku simpan perasaan ini serambi aku mendengarmu sebagai teman yang peduli dengan peristiwa yang kau gelisahkan. Bilakah aku sendiri yang bercerita jujur tentang segala yang ada di hati? Sungguh, perempuan. Maafkan segala pura-puraku. Aku tak mau lagi menambah peristiwa sedih dilukamu. Biarlah ini hanya menjadi masa yang menggerus kedahagaanku dan laparku yang hilang. Menjadi mimpi-mimpi dari balik langit. Menjadi puisi-puisi penentram hati.

Perempuan, aku anomali! sering aku di tikam perasaan yang bersalah saat aku harus bertatapan dengan wajah itu. Ada yang tak kumengerti dari guratan peristiwa yang diciptakan dari hari penuh dusta dan teriakan karena kekesalan yang memuncak. Makna yang tak pernah aku tahu, kapan akan tiba waktunya aku berbicara jujur tentang cinta yang aku gambar sendiri lewat kerumunan massa yag memandang acuh saat aku bersama wajah yang menghiasi segala hari. Ah, kejujuran yang mungkin tak akan mereka mengerti, karena kata-kataku telah menjadi burung. Bersayap dan terbang ke batas cakrawala. Mencari sendiri matahari yang aku biarkan aku meleleh dibatinku. Sedangkan aku hanya bisa diam. Hanya bisa mencari batas tanda tanya pura-pura. Kesunyian yang aku puisikan, melintas ingatan. Berenang dalam lautan peristiwa.

Menggenggam kejujuran beban tak tertahan. Menyimpan duka dada yang berserakan dalam tangis tanpa air mata. Menyimpan api yang membakar angan. Perlahan. Menyakitkan. Beribu kalimat makian menekan-nekan. Muntah dari rongga dada yang menyimpan cerita kehidupan. Sekedar puisi tangan menari, lepaskan gelisah berkelana mencari malam yang bisa diajak berkaca dalam keheningan. Aku pahat romantika dari buku-buku peradaban. Mengusir keterasinganku dari dunia kewajaran. Menyusuri kejujuran yang tak jua aku kenali sebelumnya. Mencoba memahami peristiwa yang berulang, datang dan pergi. Dalam kesunyian aku mencari wajah sendiri. Dalam kegamangan kucoba untuk mendengarkan saja.

Bicaralah!
Bicaralah, perempuan!

*kepada perempuanku yang tak pernah bisa kumiliki…selamat ulang tahun 31 juli

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*